27
AugustRisiko Mengabaikan Pelatihan HRD bagi Perusahaan
Kompetensi tim Human Resources berpengaruh terhadap
bagaimana perusahaan mengelola karyawan, menjalankan kebijakan, dan mendukung
kebutuhan organisasi. Ketika pengembangan kompetensi HR tidak menjadi
perhatian, perusahaan dapat menghadapi berbagai kendala dalam menjalankan
fungsi recruitment, performance management, employee development, maupun
hubungan industrial. Karena itu, training
HRD untuk perusahaan perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi
pengembangan kompetensi, terutama ketika terdapat gap kemampuan yang nyata.
Mengabaikan pelatihan bukan berarti perusahaan pasti
mengalami masalah. Jika tim HR sudah memiliki kompetensi yang sesuai dan
pengembangan dilakukan melalui metode lain, kebutuhan pelatihan formal dapat
berbeda. Namun, ketika tuntutan pekerjaan berkembang sementara kemampuan tidak
ikut diperbarui, risiko kesenjangan kompetensi dapat meningkat.
Kompetensi HR Berpotensi Tidak Mengikuti Kebutuhan
Organisasi
Perubahan struktur, proses bisnis, teknologi, dan kebutuhan
tenaga kerja dapat menciptakan tuntutan baru bagi HR. Jika kompetensi tidak
diperbarui, tim mungkin kesulitan menangani tanggung jawab yang semakin
kompleks.
Misalnya, HR yang sebelumnya fokus pada administrasi
personalia dapat membutuhkan kemampuan tambahan dalam HR analytics, workforce
planning, atau talent management ketika organisasi berkembang.
Training HRD untuk perusahaan dapat menjadi salah
satu cara untuk mengatasi gap tersebut apabila hasil evaluasi memang
menunjukkan adanya kebutuhan pengembangan.
Proses Recruitment Bisa Kurang Efektif
Recruitment membutuhkan pemahaman mengenai kebutuhan posisi,
sourcing, selection, wawancara, dan onboarding. Ketika kemampuan recruiter
tidak sesuai dengan kebutuhan organisasi, proses perekrutan dapat menjadi
kurang terstruktur.
Masalah recruitment tidak selalu disebabkan oleh kurangnya
kompetensi HR. Kondisi pasar tenaga kerja, employer branding, kompensasi, dan
lokasi perusahaan juga dapat berpengaruh. Karena itu, perusahaan perlu
menganalisis penyebab sebelum menentukan bahwa pelatihan merupakan solusinya.
Pengelolaan Kinerja Kurang Terarah
Performance management membutuhkan sistem dan pemahaman yang
konsisten. Tanpa kompetensi yang memadai, perusahaan mungkin mengalami
kesulitan dalam menetapkan ekspektasi, melakukan evaluasi, memberikan feedback,
atau menghubungkan hasil kinerja dengan pengembangan karyawan.
Akibatnya, performance appraisal berisiko hanya menjadi
kegiatan administratif tanpa memberikan informasi yang cukup untuk mendukung
employee development.
Pengembangan Karyawan Menjadi Tidak Sistematis
Karyawan membutuhkan kesempatan untuk mengembangkan
kompetensi sesuai tuntutan pekerjaan dan arah karier. Jika HR belum memiliki
kemampuan yang memadai dalam learning and development, program pengembangan dapat
dilakukan tanpa prioritas yang jelas.
Pelatihan, coaching, mentoring, dan career development
seharusnya dipilih berdasarkan kebutuhan. Tanpa pemetaan kompetensi, perusahaan
berisiko mengalokasikan sumber daya untuk program yang kurang relevan.
Risiko Salah Menangani Persoalan Hubungan Industrial
Persoalan ketenagakerjaan membutuhkan pemahaman yang
hati-hati terhadap kebijakan perusahaan dan peraturan yang berlaku. Kekurangan
kompetensi pada bidang industrial relations dapat menyulitkan HR ketika menghadapi
perselisihan atau persoalan hubungan kerja.
Pelatihan dapat membantu memperkuat pemahaman profesional
HR, tetapi untuk persoalan hukum atau ketenagakerjaan yang spesifik, perusahaan
tetap perlu menggunakan sumber hukum dan nasihat profesional yang sesuai.
Sulit Mengembangkan Talent Management
Organisasi yang tidak memiliki kemampuan memadai dalam
talent management dapat kesulitan memetakan talenta, menyusun talent
development, dan mempersiapkan succession planning.
Hal ini dapat menjadi perhatian ketika perusahaan mulai
membutuhkan kandidat internal untuk posisi strategis. Pengembangan talenta
membutuhkan proses yang konsisten dan keterlibatan manajemen, bukan hanya
keputusan dari HR.
Pengambilan Keputusan HR Kurang Berbasis Data
Ketika kemampuan HR analytics dan people analytics belum
berkembang, perusahaan mungkin kurang optimal dalam memanfaatkan data tenaga
kerja.
Informasi mengenai turnover, absensi, recruitment, atau
kinerja sebenarnya dapat membantu HR menemukan pola tertentu. Tanpa kemampuan
analitis yang memadai, data tersebut berisiko hanya menjadi laporan
administratif dan belum digunakan sebagai bahan evaluasi.
Biaya Pelatihan Bukan Satu-Satunya Pertimbangan
Mengabaikan pelatihan karena ingin menghemat biaya juga
perlu dipertimbangkan secara hati-hati. Namun, perusahaan tidak seharusnya
mengadakan training hanya karena takut menanggung risiko.
Langkah yang lebih tepat adalah membandingkan kebutuhan
kompetensi dengan biaya pengembangannya. Jika gap kompetensi terbukti
menghambat pekerjaan, perusahaan dapat memilih bentuk pengembangan yang paling
sesuai, baik melalui training, coaching, mentoring, pembelajaran mandiri,
maupun pendampingan langsung.
Bagaimana Menghindari Risiko Pengembangan yang Tidak
Tepat?
Perusahaan dapat memulai dengan melakukan competency gap
analysis. Identifikasi tanggung jawab HR, kemampuan yang dibutuhkan, kondisi
saat ini, dan target organisasi.
Setelah itu, tentukan metode pengembangan yang sesuai. Jika
memilih training
HRD untuk perusahaan, perhatikan relevansi materi, kompetensi trainer,
metode pembelajaran, studi kasus, serta rencana penerapan setelah program
selesai.
Evaluasi juga diperlukan untuk melihat apakah kompetensi
yang dipelajari benar-benar digunakan dalam pekerjaan.
Kesimpulan
Mengabaikan pengembangan kompetensi HR dapat meningkatkan
risiko kesenjangan kemampuan ketika tanggung jawab dan kebutuhan organisasi
berubah. Dampaknya dapat terlihat pada recruitment, performance management,
employee development, hubungan industrial, talent management, hingga
pemanfaatan data HR.
Namun, pelatihan bukan solusi untuk semua masalah. Training
HRD untuk perusahaan akan lebih tepat ketika dipilih berdasarkan gap
kompetensi yang teridentifikasi dan dikaitkan dengan tujuan organisasi. Dengan
pendekatan tersebut, perusahaan dapat mengembangkan tim HR secara lebih terarah
tanpa menjadikan pelatihan sekadar kegiatan rutin.
Reviews